Tuesday, April 23, 2013

Sabar dan Syukur



Sering kita diuji di dunia ini, sama ada - kita mungkin diuji dengan kenikmatan rezeki yang mencurah2 , dan tidak kurang ditimpa kepedihan dan kesempitan. Terkadang kita menjadi lemah ketika ditimpa penderitaan hingga mengalami kehinaan. Dan terkadang kita mendapat kenikmatan yang berlimpah yang tidak diduga. Apa yang dituntut dari kita adalah agar kita tidak menyeleweng, mengambil kesempatan, menipu dan tidak sombong serta tetap teguh dalam keimanan tatkala menghadapi dua keadaan tersebut.

Selama hidup, kita tidak mungkin terbebas dari ujian yang datang. Allah S.W.T. menguji kita untuk mengetahui sejauh mana reaksi kita dalam mengatasi suatu masalah. Allah S.W.T. memberikan penilaian kepada kita sesuai dengan sikap kita terhadap ujian yang kita hadapi. Hidup ini memang penuh dengan ujian, sebagaimana firman Allah S.W.T;

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), dan kerana itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
[Surah Al-Insaan : Ayat 2]

Seorang yang sedar akan berhati-hati terhadap penderitaan atau kesenangan yang diberi, sehingga tidak terperosok dalam kelalaian serta melihat setiap yang menimpa dirinya, baik duka mahupun gembira - merupakan suatu ujian dan takdir dari Allah SWT .

Penderitaan merupakan salah satu realisasi ujian Allah. Di saat menderita , kita terasa terusik untuk mengetuk pintu Allah dalam erti kata memohon keampunan, keselamatan dan mengharapkan kasih sayangNya. Dengan demikian, setiap penderitaan merupakan saranan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Bukankah Rasulullah s.a.w. telah bersabda; “Hendaklah seseorang mengucapkan kalimat Irtirjaa’ ketika tertimpa musibah (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Sesungguhnya kita ini hanyalah milik Allah dan kepadaNyalah kita kembali.”

Sebaliknya kesenangan hidup seringkali melalaikan manusia. Mereka terjebak dengan perangkap yang menipu dan merasa diri sebagai orang yang sukses dan beruntung kerana hasil ilmu atau usahanya sendiri. Padahal tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

Seharusnya tatkala menghadapi sesuatu yang menyenangkan kita segera bersyukur kepada Allah dan menyalurkan kurniaanNya itu pada jalan Allah sebagai merealisasikan rasa syukur dan untuk meningkatkan ketaatan kepadaNya. Dengan demikian kenikmatan menjadi pangkal untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebaiknya kita tidak mudah tertipu dengan kesenangan hidup dan menyedari bahawa kesenangan merupakan ujian Allah. Dengan ujian ini Allah akan menilai apakah kita bersyukur atau kufur terhadapnya. Semoga kita tergolong dalam hamba yang sentiasa bersyukur kepada Allah dan dijauhkan dari sifat takbur dan bongkak sombong.


                                                                          


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...